“Erokki ku bayuang kopi?”1, Sahutku
sembari menghampiri tukang kebun yang berada dibelakang rumahku
“Iyo.. Bayuamma, nampa tarokmi disitu”2,balasnya,
“Buatkanmi kopi daenga yg jamai kebun dibelakang ari”3,
timpal mamaku
“Bisajako juga buat pisang goreng? Punna bisajako, buatkanmi juga”4, tambah mama ku lagi.
Sembari aku mencuci gelas dan mempersiapkan sachet kopi,
aku pun menjawab perintahnya mamaku, “iye’ mama. Ini kubuatkanmi”, balasku,
“beh bisa ja, biasa tomma juga, buat pisang goreng ji lagi”5, ucapku dengan nada agak meragu dan sedikit menaikkan alis dengan mata seperti meyakinkan pada diriku
Perlu diakui,
aku sebenarnya belum pernah membuat pisang goreng. Hanya saja, aku sering
melihat serta mencermati teman ataupun keluargaku yang sering membuat pisang
goreng. Walaupun bisa dikatakan kemungkinan kecil eksperimen pertamaku membuat
pisang goreng ini berhasil. Layaknya aku mempelajari tekhnik renang, walaupun aku
sudah paham betul dengan teorinya, belum tentu berhasil ketika menerapkannya.
Usai kusiapkan
seduhan kopinya, aku pun dengan perlahan menghampiri daeng pajama kebun yang
sedang membakar ranting-ranting dan batang pohon sisa tebangan pohon yang
kiranya sudah tak layak dipakai. Melihat kulitnya, dan rambutnya yang tak lagi
hitam legam, Sepertinya umur nya sudah mendekati senja. Tetapi dia masih tampak
bugar, dan mampu mengangkat beban yang berbobot.
“sini kubantuki”6,teriakku
“Janganmi, nakke pa”7, balasnya
“Biarmi, biar tenaki mangngang”8,
timpalku.
Tetesan keringatnya lah yang bisa menjawab percakapan
terakhirku. Nampaknya beliau pekerja keras dan sudah terbiasa dengan pekerjaan
tersebut . dipertengahan kerjanya, beliau menyempatkan diri menyeruput kopi
yang baru saja kubawakan. Sepertinya legah rasanya membantu mengurangi
keletihannya,dengan memberikannya suplemen secangkir kopi.
Disela
istirahatnya, mulailah obrolan ringanku dengannya. Dimulai dari obrolan tentang
om yang sebentar lagi akan dilantik, hingga obrolan tentang nenekku yang
ternyata dia adalah pekerja sawahnya juga. Obrolan ringan itu merambat hingga
problematika pilpres dan sengketanya. Dan ku ketahui juga bahwa dia sangat
mengenali sosok salah satu calon yang merupakan saudagar dari timur itu. Dengan
paras apa adanya, dia mengingat kebaikannya kepadanya dan beberapa masyarakat
butta toa yang pernah diberikan gas dan minyak saat kampanye nya pada tahun
2004 silam. Itulah yang membuat daeng mari yang kuketahui belakangan namanya,
begitu mengenal sekaligus mengagumi sosok saudagar shaleh itu ‘katanya’.
Obrolan itu
pun melahap pagi ini dengan topik lain. Tak ku duga dia juga tertarik dengan topik
ekonomi. Dia pun menyentil obrolan itu
dengan menanyakan mas-mas dari pulau pusat perekenomian negara yang tinggal
disamping rumah nenekku.
“Pabalu’
nyong nyong disamping rumahnya karaeng thamrin, pindahmi di’?
Nia’mi injo balla’na, lompo tonmi”9,
ucapnya.
Nyongnyong itu semacam siomay khas buatan mas dodo dari pulau seberang. Beliau
sempat tinggal lama di samping rumah nenekku. Dan sekarang dia pindah karena
sudah memiliki rumah sendiri.
Itulah sedikit
obrolan kecilku yang merupakan sentilan pagi bagiku, karena sentilannya membuat
mataku tak lagi sayu karena kantuk dan membuka mata hati ku perlahan-lahan dari
kecenderungan kebutaan sosial. Ternyata akar rumput butta toa bantaeng pun
sangat paham bahwa roda perekenomian bantaeng dinahkodai oleh ras java dan ras
china/tionghoa. Bukan maksud mengelak dari kenyataan ataupun lainnya. Tapi, ini
adalah fenomena nyata yang juga kulihat dari aku lahir hingga saat ini. Peluang
bagi mereka cukup besar dikarenakan mental masyarakat yang menghuninya tak
memiliki ghirah yang cukup untuk sekedar mendengar cibiran, jikalau
ingin berdagang. Karena baginya, fulusss lebih berharga dari pada proses yang
akan meberikannya reward uang hingga kepuasan batin. Cara instant pun
ditempu untuk menjadi seorang kaya raya bak Tuan dan Nyonya dengan minuman Wind
nya diatas karpet megah. Jangan salahkan pula jikalau dari dulu hingga saat
ini, jenis kuliner yang sama dengan harga yang berbeda akan tetap dirasakan
masyarakat nya karaeng manappiang (Raja terakhir kerajaan bantaeng).
Footnote
1. 1. Mau dibuatkan kopi?
2. 2 Iya, silahkan. Dan letakkan
saja di situ.
3. 3 Buatkan kopi untuk pekerja
kebun
4.
4 Kamu bisa buat pisang goreng?,
kalau bisa, buat pisang goreng juga ya
5.
5 Iya. Saya bisa. Sekedar pisang
goreng saja
6.
6 Sini, aku bantu
7.
7 Tidak usah, saya sendiri saja
8.
8 Tidak apa-apa. Biar kamu tidak
lelah
9.
9 Penjual nyongyong disamping
rumahnya kr thamrin sudah pindah ya? Adami juga rumahnya. Besar lagi.

Komentar
Posting Komentar