Hati-hati, distorsi media!






Medan-ORBIT: Bentrok antar Mahasiswa kembali terjadi di Medan. Kali ini bentrok terjadi di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) jalan  Mukhtar Basri Medan, antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM),  Rabu (21/9) (Sumber: http:// www.harianorbit.com/pukuli-kader-imm-ketua-bem-umsu-dilapor-ke-polisi/ )
Melihat berita seperti diatas, kerap kali kita merasa gundah diantara paradoks buatan media tersebut. Tak jarang pula kita dibawa oleh sebuah bahtera besar yang didalamnya bak kerumunan pembual kakap dengan kemampuan akrobatik katanya bisa memutarbalikkan apa yang sebenarnya terjadi. Itulah berita, yang kita seolah-olah dibawa ke opini seorang penulisnya. Mirisnya apabila berita yang benar-benar terjadi sesuai lapangan, ternyata kita tidak mempercayainya. Sungguh fenomena yang tak jarang di pertontonkan dipanggung dunia media ini.
Berdasar laporan dari saksi mata melalui wawancara media online tersebut, kejadian bermula pada saat OSPEK/MATAF UMSU. Saat itu, ketua BEM diberikan kesempatan untuk berbiacara, dalam pembicaraannya, terdapat unsur  provokasi mengenai rangkaian  mataf  yang mengaitkan IMM.
“Tidak usahlah  ikut Mataf ini, rangkaian acara ini hanya milik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, jadi mendingan  teman-teman balik  ke rumah  saja”, Ucap ketua  BEM  saat berbicara dihadapan mahasiswa baru.
Sontak salah satu  kader yang mendengar dan  merasa geger dengan provokasinya dalam sambutan itu, kemudian mengambil sikap. Tidak terima atas sikap kader tersebut, pihak BEM pun  melawan sikapnya, dan akhirnya terjadilah perseturuan yang tak diinginkan.
            Kejadian ini adalah cambukan yang kesekian kalinya untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Karena kejadian serupa sempat terjadi pada akhir tahun 2013 silam  yang menimpa kader Nias, dan adapula berita mengenai perseturuan antara IMM dan LDII, dan beberapa kejadian lain yang melibatkan IMM. Kita bisa mengatakan ini sebagai cambukan ataupun teguran karena opini publik sedang digulirkan oleh media, tanpa ada klarifikasi yang lebih jelas ataupun semacam konfrensi pers yang diadakan oleh IMM . menurut salah satu kader IMM FE UMY, “jaman ini, kita sedang mengalami masa yang dimana perang posisi yang bermain, bukan lagi perang manuver” Ungkap IMMawan Arif widodo. “perang manuver dalam artian semacam perang berdarah yang menggunakan senjata dan sejenisnya, perang posisi dalam artian fokus pada konsolidasi atau semacam bergaining position dalam bahasa media”, Ungkapnya lagi. Jadi, mereka yang mampu berperang dalam posisi akan pula mendapatkan posisi dalam  konteks media dan secara beriringan hal lainnya pun akan terbentuk. Karena image building dalam media mampu membawa citra seorang akan baik tanpa tidak kita ketahui substansi didalamnya.
            Melihat fenomena ini, IMM sebagai gerakan mahasiswa, seharusnya  paham  maksud dari apa yang dibawa oleh media. Gerakan yang bergerak dalam  pengkaderan  ini, sudah tak bisa dipungkiri kemampuannya dalam hal intelektual secara umum. Sehingga apabila nalar intelektualnya tersebut disandingkan dengan kemampuan analisa media, maka kita tak akan lagi mendengar aksi dengan mengutip data dalam bentuk berita yang bersumber dari media. Kuatnya pergerakan  kita dalam  hal media pun  turut  membantu dakwah kultural IMM agar bisa masif. Karena dijaman  ini sangat dibutuhkan  keseimbangan dalam berbagai aspek, termasuk dalam  media. Jadi, jika ingin bertarung dijaman global ini, ya kita harus mampu menganalisa media dan kalau perlu menguasai media dengan salah satunya memiliki media atapun berafiliasi dengan salah satu media. (Mun)

Komentar