May day: Anomali untuk pelajar dan mahasiswa




Rasa syukur yang berlimpah untuk kawan-kawan buruh karena telah diresmikannya tanggal 1 mei menjadi hari libur nasional. Sehingga para buruh bisa saling berinteraksi, berdiskusi hingga melakukan aksi baik lapangan maupun tulisan dalam rangka mengangkat harkat martabat buruh. Tetapi untuk kali ini, saya ingin menulis anomali sistem buruh yang terjadi di kalangan pelajar khususnya mahasiswa.
Sering kita mendengar adanya kontrak belajar di setiap awal pembelajaran. Isi dari kontrak belajar tersebut berisikan tentang aturan main maupun pasal-pasal yang kadang memberatkan pihak mahasiswa/pelajar.  Dan sedikit yang memberatkan pada pendidiknya yaitu yang membuat aturan main itu sendiri.
Singkatnya, perlu kita analisa dan kaji lebih dalam kawan. Aturan main yang dibuat dalam bentuk kontrak belajar tersebut. Seharusnya kita dituntut untuk mencari ilmu lebih banyak dengan diskusi dan banyak lagi cara belajar yang lebih kekinian. Akan tetapi fokus dalam pembelajaran hanya pada aturan main yang hanya sibuk mengatur estetika, absensi dan ketakutan-ketakutan lainnya yang membuat pelajar/mahasiswa takut untuk berekspresi dan berimajinasi dalam belajar. Dan tenaga pendidik seolah olah adalah sumber utama ilmu yang sudah diakui kebenarannya. Aturan main hanya sibuk membenarkan cara menerima ilmu, pakaian dan maksimal absensi berapa persen. Sehingga hakikat pembelajaran itu tidak. Lantas bedanya apa kawan dengan aturan main yang dibungkus dengan nama kontrak kerja pada buruh? Ketika sudah melampui batas dan kehadiran maka akan didiskualifikasi. Ini namanya pembelanjaran berbasis buruh. Diajarkan bagaimana caranya menjadi buruh dan takut akan sistem sehingga orientasi pelajar/mahsiswa hanya untuk menjadi buruh. Monggo kawan diresapi lebih dalam lagi untuk kebaikan kita bersama ;)

Komentar