Anak panah kebanggaan ?


Sebaik-baik manusia juga tak jauh dari rasa ingin diakui, eksistensi adalah suatu yang paling mendasar pada manusia jikalau ingin merasa “diadakan” dikumpulan masyarakat. Begitupun mungkin dilakukan oleh umat islam yang dibawah oleh Rasulullah.
Ekspansi yang dilakukannya hanya diseputaran negara arab ternyata tak cukup untuk membuat islam itu ada dan diakui. Hingga pada akhirnya seluruh asia, afrika, eropa dan beberepa tempat lainnya yang belum terjamah oleh tasbih mampu ditaklukkan oleh Rasulullah bersama serdadunya. Bukan hanya perang manuver saja yang dilakukan sekitar abad 6-7, trnyata perang intelektual pun ikut andil dalam membawa ajaran ilahi tersebut. Dengan otot untuk berperang melawan kekafiran  dan dengan otak untuk mencerdaskan masyrakat dunia dari kejahiliaan. Walaupun hingga akhirnya pasca perang salib, peradaban eropa bangkit dari kegelapan setelah mereka sadar bahwa intektual begitu penting. Sehingga revitalisasi kebudayaan dan revolusi pendidikan tinggi menjadi tonggak utama pada bangkitnya peradaban eropa yang berhasil mendirikan universitas ternama seperti oxford dan cambridge di inggris. Shubhanallah, tak cukup kata itu yang bisa membangkitkan eksistensi islam dipenjuru dunia ini. Bukan sekedar retorika, akan tetapi action revolusi yang membuatnya bisa menyebarluasan islam di dunia ini sehingga bisa diakui.
Melihat usaha rasullulah mempopulerkan islam yang begitu berat ternyata sedikit membuatku besar hati ketika aku masih dalam perjalanan menuju titik perjalanan kehidupanku. Orang biasa menyebutnya titik kemapanan sehingga biasanya dalam bentuk buah bibir  yang akan membuat nya “ada”. Entah titik kemapanan apa yang mereka maksud. Ada banyak maksud baik itu kebahagiaan duniawi semata ataukah akhirat semata, ataukah keduanya dengan keseimbangannya.
Rasa kecil hati itu terus saja mendekatiku tanpa waktu yang tak bisa kuduga. Moment yang kuanggap terbahagia dan tersuci pun tak sengajai menodai hati ini. Aku mungkin terlalu ingin diakui dalam perjalan kehidupan. Sehingga aku selalu saja menganggap mereka tak adil dalam berucap. Ketidakadilan ternyata bukan hanya dirasakan masyarakat dalam lingkup kebangsaan dan kenegaraan, tetapi juga begitu dirasakan dalam aspek kecil, misalnya saja yang aku rasakan saat ini. Mereka tidak hanya memiliki “satu”, anak panah yang perlu didistribusikan kebanggaannya. Harapan itu ku lontarkan agar  tak terjadi kecemburuan sosial. Biarkan saja bathinku yang merasakan itu, tapi jangan sampai anak panah lain yang kurang beruntung tidak mengenai lingkaran kebanggaan mayoritas, juga terkena perihnya mendengarkan kebanggaan anak panah yang masuk lingkaran tersebut.
Aku pikir bukan saatnya terbelit dalam problematika sepele mengenai eksistensi dengan cara “buah bibir” tersebut. Tapi yang harusnya aku pikirkan lagi, bagaimana caranya biar jadi “aku”. Tak perlu berharap buah bibir sesaat dalam menjalani proses kehidupan ini. Anggap saja kamu sedang membangun istanah megah kehidupanmu. Dalam prosesnya tampaknya sulit dan banyak hal yang membuatmu patah arang karena bentuknya yang belum jadi. Berbagai cibiran maupun terpaan dari lingkungan sekitar terus menghujanimu, seolah-olah membawamu ke arah tidak yakin dikarenakan opini publik. Tetapi hati kecilmu selalu yakin dengan nalurinya yang jitu dengan daya arsitek kehidupanmu akan membawamu berhati besar dalam mengarungi kehidupanmu ini.

Komentar