Saya Sembah apa yang tidak seperti dengan saya



"Saya menyembah apa yang tidak seperti dengan saya, bukan pohon yang hanya bisa diam ketika hujan menerpa bahkan jatuh ketiban oleh derasnya angin"

Beberapa bulan yang lalu, saya agak geli dengan sebuah tulisan yang cukup menggelitik pikiran. bukan bermaksud untuk melanggar hak argumentasi seseorang. akan tetapi cuma ingin menginterupsi apa yang menurut saya berbeda. mungkin kapasitas saya belum seperti penulis-penulis yang melegenda dan analisis saya masih dikulitnya. jadi begini, ada beberapa point dari tulisan itu, yang membuat saya agak geli. hehehehe *sambil guling-guling*

 semua agama itu irasionalitas dan tak lepas dari mitos-mitos

whehehe. jadi baper membacanya. seperti menonton film assalamu alaikum kijang yang saya terharu hingga tissue habis dan akhirnya langsung menebang pohon jadi tissue. saya jadi berfikir flashback pada masa itu. saya dipukul oleh teman "prokkkkkk" "nyokkk". lantas teman berucap "Mana Tuhanmu? Kok dia nggak nolong kamu?" Geram teman. Sontak saya terdiam dan tersungkur hingga liur-pun entah kemana. Beberapa menit kemudian saya sedikit berkontemplasi sembari mendengar penjelasan dari teman "Begini teman, itulah kebesaran seorang maha pencipta, secara tak langsung tanpa kehadiranNya, beliau telah menolong diri kita, dari marabahaya seperti yang saya lakukan terhadapmu" Pungkas teman
"Teruss apa hubungannya?" Tanya saya kembali 

"Sang pencipta menciptakan tangan sebagai alat pelaksana dan otak sebagai setir yang mengemudikan alat-alat pelaksana yang ada ditubuh kita" Tegasnya "makanya mikir pakai otak, kalau kamu dipukul, ya pakai tangan buat berlindung dan melawan" Tegas teman kembali.

Sontak saya berfikir kembali, Kalau begitu, ada dimensi yang berbeda antara pencipta dan apa yang diciptakan. kita biasa menyebutnya transedental, dimensi yang kita tidak bisa melogiskannya. karena pencipta punya hak otoritas atas apa yang diciptakannya. tidak seperti pohon yang hanya diam walaupun hujan menerpa, bahkan jatuh ketiban oleh derasnya angin.

Komentar