Seperti biasa hari ini tak
seistimewa masa kecilku yang selalu ditemani kelembutan kasih dan lantunan
syair. Tapi bukan hidup namanya kalau aku tak bisa lekas dari nuansa itu. Kadang
aku berfikir terlalu utopis, dalam tulisku selalu saja menyempurnakan diriku
dan dalam imajinasi, aku bak penguasa angina ataupun api. Tak seperti biasanya,
aku mencoba beranikan diri kembali keluar dari zona nyaman, seperti halnya yang
kulakukan semasa awal-awal kuliah dahulu.
Mencoba “Alienasi” dari dunia modern, seperti menjauhkan diri dari kedekatanku dengan telfon genggam yang pintar, material yang selalu ada pada diriku, maupun kenyamanan dan kemudahan lainnya. Akan tetapi Hanya satu hal yang kudekatkan denganku, yaitu kedekatan dengan sang maha pencipta.
Mencoba “Alienasi” dari dunia modern, seperti menjauhkan diri dari kedekatanku dengan telfon genggam yang pintar, material yang selalu ada pada diriku, maupun kenyamanan dan kemudahan lainnya. Akan tetapi Hanya satu hal yang kudekatkan denganku, yaitu kedekatan dengan sang maha pencipta.
Kadang kita perlu bermain narasi.
Bukan bermaksud memunafikkan diri dan membuat suasana hidup seolah peranan
opera yanh diatur oleh dalangnya. Akan tetapi bermaksud membuat tokoh yang
seolah-olah itu adalah kamu, dan predikat maupun ceritanya kau harus dalami. Hari
ini aku mencoba meragakan pada masyarakat sekitar. Aku beradialek seolah-olah
bukan diriku, tetapi itu diriku. Mulailah aku bercerita dengan narasi pertama
kepada Bapak yang prihatin denganku karena kondisiku dalam narasi itu. Aku meragakan
diriku sedang tak berdaya karena kehilangan segala materi yang memudahkan dan
menyamnkan diriku selama ini. Penjiwaan narasi pertama tentang seseorang
pelancong yang kehilangan materinya itu awalnya tak sedalam yang telah kususun
dan penjiwaanku belum merasuki titik sensitif orang yang kuhadapi sebelumnya. Sehingga
penolakan beberapa kali terjadi padaku. Hingga tibalah aku dihujung jalan
dengan berhadapan sebuah hotal yang sebenarnya agak mirip dengan home stay. Dan disanalah aku berupaya
betul mendalaminya, dan sontak akupun kaget, karena responnya positif dan
mendapatkan feedback yang cukup untuk
sekedar suapan nasi.
Kadang narasi yang sama ditempat
yang berbeda membosankan untuk disuguhkan kembali ke orang lain. Aku memilih
untuk berhenti sejenak berfikir tentang narasi kedua sembari charge tenaga di
warung favorite pelajar/mahasiswa jogja. Tak selang beberapa waktu, aku pun
bergegas kembali mencari titik pencaharian agar tetap survive sebelum bom waktu
jalan pulang datang. Sebelum aku beranjak dari warung tersebut, tak lupa
mengamalkan ajaran YM untuk berbagi walaupun keadaan saat itu sedang “bangkrut”,
insyaALLAH akan segera dilipatgandakan. Sebelum aku mampir ke beberapa lokasi,
aku pun memperhatikan target operasi dengan catatan, target operasiku dengan
ketentuan tertentu seperti ibu-ibu, wanita yang lembut dan sejenisnya.(heheh). Ketentuan
itu kulakukan setelah ditolak beberapa ruko maupun warung diluar dari ketentuan
itu. Akhirnya tak lama kemudian, aku kembali mampir ke sebuah Toko ATK, dan
dengan narasi seseorang yang nekat kabur dari rumah untuk bersekolah di kota
jogja yang memiliki predikat kota pelajar. Tanpa membawa bekal yang banyak dari
rumah, hingga tak cukup untuk berteduh beberapa waktu sekalipun. Sontak akupun
kaget kembali, ketika responnya positif dan responnya sepuluh kali lipat dari
yang kuharapkan. Setelah itu, aku kembali bergegas menuju tempat yang tepat
untuk kudatangi. Tertuju mataku pada sebuah butik sekaligus konveksi. Disana kembali
aku berkata dengan narasi yang sama. Dan alhamdullillah diimbalkan kembali. Wow
subhanallah. Akan tetapi dengan catatan harus membantu dibutik itu untuk
beberapa waktu. Dan yang menarik lagi, pemiliknya hanya mengakatan bahwa karena
kamu belum tau apa-apa dijogja dan belum punya apa-apa yasudah bahagiakan saja
yang ada d butik ini (wkwkw). Akhirnya beberapa jam saya membantu dedelin benang baju yang akan dipermak.
Cerita menarik hari kemarin
tentang suvive dengan narasi dan dialektik sebagai bumbunya.
Komentar
Posting Komentar