Kebangkitan Wanita - Hingga ‘Suami-Suami Takut Istri’



Kali ini, Saya ingin bercerita tentang obrolan siang bolong tak terduga beberapa tempo lalu. Waktu itu tak sengaja Saya bersama seorang teman yang perawakannya misterius.

Kali itu, Kami cukup serius ngobrol yang mulanya dari ngobrolin skripsi hingga akhirnya tibalah diobrolan tentang “Konstruksi Sosial Pacaran”


Awalnya Saya pikir teman Saya ini adalah orang yang lurus-lurus wae, tidak neko-neko dan kalau dibilang iya, ya ikut aja. Tapi ternyata itu hanya secara kasat mata saja. Bagaikan seorang Peter parker yang tampaknya culun, tapi ternyata seorang Spiderman.

Kerennya Dia, bisa-bisanya ngebahas penelitiannya hingga cukup detail. Karena membahas dari zaman Kartini dengan budaya ‘Pingitan’ hingga ditarik lurus pada budaya masa kini.

Tak lebih kerennya lagi, Dia sempat-sempatnya mikirin tema skripsi yang begitu wow itu setelah sakit. Dia bilang, “Padahal Saya harusnya meneliti yang lebih investigative”. Tapi karena sakit, apa dayalah bisanya meneliti tentang perilaku pacaran disekitar kelas dan kampus.

Penelitian itu katanya hanya meneliti lingkup kecil diarea jurusannya saja dengan sampel teman-temannya. Tapi Saya akuin itu sungguh brilliant.

Kita lanjut bercerita tentang penelitian teman Saya ini. Kisahnya dimula dari seorang sosok Kartini yang pada zaman itu hidup dengan budaya ‘Pingitan’ yang dimana seorang Wanita memiliki strata sosial jauh dibawah lelaki. Sehingga membuat Wanita setelah umur 12 tahun harus 'dipingit'. Dalam artian Wanita harus diajarkan bagaimana caranya menjadi Ibu rumah tangga yang baik dan segala hal yang berhubungan dengan dapur dan kasur

Kalau istilah Saya, secara harfiah pernah dengar seorang kawan beberapa tahun yang lalu, Wanita itu = wani ditoto (Berani ditata oleh Pria). Dan disini menurut asumsi Saya, saatnya Wanita di asah menjadi Wanita yang sesungguhnya untuk mendampingi seorang Pria.  Dan kalau istilah Saya waktu itu juga, Pria itu = Priyayi. Jadi secara  strata sosial sangat dibentuk mulai dari istilah Pria dan Wanita.

Jadi zaman Pingitan ini sangat membuat Wanita tak mempunyai daya tekan yang kuat. Karena tidak dibolehkan menuntut pendidikan setelah usia diatas 12 tahun dan beberapa hal yang berhubungan dengan strata lainnya. Mungkin kalau zaman dulu sudah ada medsos, isinya itu hanya kumpulan Pria. Karena zaman itu Wanita tak boleh alias dilarang oleh Orang tuanya untuk tampil dikhalayak umum setelah umur 12 tahun (usia baligh). hehe

Dari asumsi tersebut, maka teman Saya yang sangat macho perawakannya itu, membuat asumsi bahwa Pria memiliki dominasi yang lebih dari Wanita.

Penelitian ini sangat menarik, karena sangat dekat dan sering dilihat oleh khalayak umum
Lebih menariknya lagi, dari hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa Wanita zaman sekarang itu ternyata lebih dominan dari Pria. Dari hasil penelitian mengungkapkan dari beberapa aspek, Wanita banyak yang mengambil keputusan dan tak jarang Pria itu mengikuti apa kata Wanita. 

Mungkin beberapa hal lain yang perlu digaris bawahi, kalau ternyata zaman sekarang itu lebih ekstrim karena yang menentukan lanjut atau tidaknya sebuah hubungan itu adalah Wanita.
Entah dari mana awal mula logika itu terbentuk.

Setelah diselidiki secara mendalam,  ada beberapa gebrakan sejarah setelah hilangnya budaya ‘Pingitan’ tersebut. Beberapa diantaranya terbitlah sebuah majalah ‘Gadis’ pada tahun 1960-1970an yang memprakarsai Wanita itu harus bisa eksis dan didukung pula dengan akulturasi budaya dari beberapa Negara hingga pengaruh media massa seperti radio dan lainnya.

Gebrakan ini pula lah yang membuat Wanita bisa tampil dikhalayak umum. Dengan karakter yang masing-masing wanita miliki, membuat Pria bisa memilih Wanita tak seperti memilih ayam dalam sangkar, yang tidak diketahui jati diri yang sebenarnya.

Menurut asumsi Saya,  karena gebrakan ini, maka terbentuklah demokrasi dalam berhubungan. Jadi seorang Pria maupun Wanitapun bisa memilih pasangannya dengan karakter yang sebenarnya dan sesuai yang diinginkan.

Selain itu, karena akulturasi dari budaya beberapa negara, terpaksa merubah beberpa norma yang dahulunya sangat dihargai. Seperti  sebuah hubungan tanpa adanya ikatan suci yang dahulunya sangat tidak dianjurkan, menjadi hal lumrah dilakukan dan dilihat. Inilah awal mula budaya pacaran mewabah hingga saat ini.

Disini bisa dilihat alur perkembangan zaman pergerakan Wanita yang begitu pesat yang dahulunya dimarginalkan. Kemudian bisa tampil dikhalayak umum dan akhirnya bisa memilih pasangan dengan seleranya.

Menurut beberapa asumsi, karena adanya ruang untuk tampil dikhalayak umum dan adanya pula demokrasi dalam berhubungan, membuat Wanita terkadang mendominasi  Pria. Dan bisa kita lihat fenomena saat ini, beberapa sentilan mengenai ‘Suami-suami Takut Istri’ pun mewabah


Untuk itu, Saya berharap mengambil nilai positif dari penelitian ini. selain itu Saya pun berharap agar para Pria tetap mengupgrade dirinya agar bisa tetap eksis, baik itu agama maupun sosial. Jangan sampai budaya ‘Pingitan’ ini kembali, dan akhirnya melekat pada Pria. Hehe

Komentar